Aku segera menyomot payudara Maya dengan mulutku.“Mmmm… suuup… mmm…” kukenyot-kenyot lalu aku sedot putingnya.“Mass… sakiit…” rintih Maya sambil memegangi vaginanya.Sekali lagi tak aku hiraukan rintihan itu. Bokep live Putri tertua mereka, Murni sudah dijemput pacarnya sejam yang lalu. Matanya masih terpejam rapat tapi bibirnya menyunggingkan senyum. Kulumat bibir bawahnya perlahan tapi penuh dengan hasrat, nafasnya mulai berat. Mendingan pacaran sama Mas Ivan, iya nggak?” pancingku.“Ah, Mas Ivan ini bisa aja godain Maya..”Maya mencubit pahaku sekilas. Tanganku dituntunnya mengusap-usap lubang kelaminnya. Beberapa kali aku menelan ludah memandangi payudara Maya. Waduh, penisku kok bangun yah?“Mau nggak Mas, tolongin Maya?”“Ada upahnya nggak?”“Iiih, dimintai tolong kok minta upah sih…”Cubitan kecil Maya kembali memburu di pahaku. Dan ternyata CD pink yang dikenakan Maya telah basah.“Maya kencing di celana ya Mass?”“Bukan sayang, ini bukan kencing. Aku tidak tahu tahu kalau sejak Maya masuk tadi Nancy mengintip di depan kamar.“Nancy? Kuperas-peras payudara Maya penuh perasaan. “Kayaknya bete banget lagunya.”
Aku menghentikan petikan gitarku.“Yah, gimana ya… kayaknya aku lebih suka sama Maya deh ketimbang sama dia.”Nah lo!